Penerapan konseling online dengan pendekatan cognitive behavior therapy dalam menghadapi post traumatic stres disorder

Abstract

Banjir merupakan bencana alam yang paling sering diikuti oleh gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD), namun akses korban terhadap layanan kesehatan mental berbasis bukti masih terbatas, khususnya di wilayah terdampak yang sulit dijangkau. Penelitian ini menelaah proses dan hasil konseling online dengan pendekatan cognitive behavior therapy (CBT) dalam menurunkan gejala PTSD pada seorang penyintas banjir bandang Aceh akhir 2025, sekaligus mengidentifikasi mekanisme perubahan yang terjadi. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif (single-case study) terhadap satu partisipan laki-laki berusia 40 tahun yang dipilih secara purposif berdasarkan asesmen awal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, dokumentasi, serta instrumen PTSD Checklist for DSM-5 (PCL-5). Intervensi diberikan dalam empat sesi konseling daring sinkron (masing-masing 40 menit) menggunakan teknik restrukturisasi kognitif dan positive self-talk. Analisis dilakukan secara tematik melalui reduksi data, koding, kategorisasi, dan pengembangan tema, dengan triangulasi teknik dan member checking untuk menjamin keabsahan. Temuan diorganisasikan ke dalam lima tema: pikiran katastropik pascabencana; hujan sebagai pemicu aktivasi ingatan traumatis; restrukturisasi distorsi kognitif; peningkatan regulasi emosi dan koping adaptif; serta pemulihan fungsi sosial dan kepercayaan diri. Dalam konteks partisipan yang diteliti, konseling online berbasis CBT menunjukkan potensi untuk menurunkan intensitas gejala PTSD dan memfasilitasi pemaknaan ulang terhadap pengalaman traumatis. Temuan ini bersifat kontekstual dan tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi, tetapi memberi gambaran proses dan mekanisme yang dapat diuji pada penelitian berskala lebih besar. Mengingat keterbatasan satu partisipan dan desain studi kasus, temuan dimaknai sebagai indikasi yang bersifat eksploratif, bukan konfirmasi atas efektivitas intervensi.