Pengaruh pendidikan bantuan hidup dasar terhadap pengetahuan dan keterampilan siswa sekolah menengah atas

Abstract

Keterlambatan penanganan pada out-of-hospital cardiac arrest (OHCA) menurunkan peluang kelangsungan hidup, sehingga pendidikan Basic Life Support (BLS) menjadi penting bagi siswa sekolah sebagai calon penolong pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan, keterampilan praktik, dan motivasi setelah pendidikan BLS, menganalisis hubungan antara pengetahuan dan keterampilan, serta menguji peran motivasi sebagai variabel moderator. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan one-group pretest–repeated posttest yang melibatkan 42 anggota Palang Merah Remaja (PMR) kelas X dan XI di SMA Negeri 6 Semarang. Intervensi diberikan melalui kombinasi pembelajaran teori, demonstrasi, praktik langsung, dan simulasi menggunakan manekin. Pengetahuan, keterampilan, dan motivasi diukur pada lima titik pengukuran menggunakan kuesioner, lembar observasi/Objective Structured Clinical Examination (OSCE), dan skala motivasi empat poin. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 16,45±0,94 menjadi 40,71±2,45, keterampilan dari 23,98±1,85 menjadi 40,40±2,04, dan motivasi dari 73,14±3,84 menjadi 86,71±4,53. Seluruh perbandingan berurutan pada skor pengetahuan menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,001). Pengetahuan dan motivasi secara independen memprediksi keterampilan (masing-masing p<0,001 dan p=0,008), sedangkan interaksi antara pengetahuan dan motivasi tidak signifikan (p=0,778). Pendidikan BLS yang mengintegrasikan teori, demonstrasi, praktik, dan simulasi terbukti meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, psikomotor, dan motivasional. Pelatihan penyegaran (refresher training) secara terstruktur direkomendasikan untuk mempertahankan keterampilan praktik BLS dalam jangka panjang.