Perspektif IPS terpadu dan SDGs dalam mengkaji konflik manusia–satwa liar akibat banjir: tinjauan literatur sistematis atas kasus ular piton di Bali
-
Published: June 23, 2026
-
Page: 79-87
Abstract
Fenomena kemunculan ular piton saat banjir di Bali menunjukkan adanya masalah ketidakseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan. Kondisi ini menimbulkan dampak sosial berupa meningkatnya konflik manusia dan satwa liar serta keresahan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpretasikan fenomena tersebut sebagai isu lingkungan dan sosial dalam perspektif IPS terpadu serta keterkaitannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur sistematis. Subjek penelitian berupa 16 sumber literatur ilmiah yang terdiri atas artikel jurnal nasional dan internasional, buku, serta skripsi yang terbit pada rentang 2015–2025, dengan mayoritas (14 sumber) berada dalam lima tahun terakhir, dan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi yang mencakup relevansi substansi, publikasi pada media peer-review, serta kesesuaian dengan konteks Asia Tenggara. Literatur ditelusuri melalui Google Scholar, Scopus, dan portal jurnal nasional menggunakan kata kunci Boolean. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan instrumen berupa lembar analisis literatur yang mencakup empat dimensi, yaitu pemicu ekologis, dampak sosial, respons kebijakan, dan implikasi pendidikan. Analisis data menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14 dari 16 sumber mengidentifikasi degradasi habitat dan alih fungsi lahan sebagai pemicu utama kemunculan ular piton, sementara 12 sumber melaporkan peningkatan kerentanan sosial dan rasa takut di kalangan masyarakat terdampak. Simpulan penelitian menegaskan bahwa fenomena ini merupakan indikator multidimensi ketidakseimbangan sosial-ekologis yang memiliki relevansi langsung dengan SDG 4 (pendidikan berkualitas), SDG 11 (perkotaan berkelanjutan), SDG 13 (penanganan perubahan iklim), dan SDG 15 (ekosistem darat), sehingga berimplikasi pada pengembangan kebijakan berkelanjutan dan pembelajaran IPS kontekstual. Keterbatasan penelitian ini meliputi ketergantungan pada data sekunder dan tidak adanya validasi lapangan secara primer.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.